Rabu, 20 Oktober 2010

Pendidikan IPTEK Dalam Masyarakat Islam

Pendidikan IPTEK Dalam Masyarakat Islam
Oleh: Akhmad Fauzan

A. Konsep Pengetahuan, Tekhnologi dan Seni (IPTEKS)
Ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi, dan diinterpretasi, menghsilkan kebenaran obyektif, sudah diuji kebenarannya, dan dapat diuji ulang secara ilmiah.
Secara etimologi, kata ilmu berarti kejelasan. Olehnkarena itu, kata ilmu dengan segala akarkata dan bentuknya mempunyai cirri kejelasan. Hal ini termuat 854 kali di dalam alqur’an. Kata dimaksud, digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan.
Tekhnologi merupakan salah satu budaya dari hasil penerapan praktis ilmu pengetahuan. Tekhnologi disatu aspek dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahterahan bagi manusia, tekhnologi pada aspekmlainnya dapat membawa dampak negatife berupa ketimpangan dalam kehidupan. Oleh karena itu, tekhnologi dapat dianggap bersifatnetral. Hal ini berarti tekhnologi dapat digunakan manusia ujtuk mencapaimkemasahatan dan untu menghancurkan manusia itu sendiri. Adapun seni merupakan merupakan bagian dari budaya manusia, berarti hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya. Selain itu, seni adalah hasil ekspres jiwa yang berkembang menjadi bagian dari budaya bnagsa.

B. Era Iptek
Pada era ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK) sekarang ini, masyarakat Islam ditutut untuk melakukan antisipasi baik dalam pemikian (konsep) maupun tindakan. Kesiapan dunia pendidikan Islam dalam memasuki tahap ini banyak tergantung pada kejeliandan antisipasi yang dilakukan, termasuk kejelian dalam mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi.
Pendidikan Islam yang tugas pokonya menelaahdanmenganalisis sertta mengembangkan pemikiran,informasi dan fakta-fakta keendidikan, dituntut harus mampu mengetahkan perencanaan program-program dan aktivitas-aktivitas operasional pndidikan terutama yang berkaitan dengan pengembangan dan pemanfaatan IPTEK. Strategi pendidikan Islam dalammenghadapi tantangan dalam menghadapi kemajuan IPTEK antara lain:
1. Memotivasi kreativitas anak didik kearah pengembangan IPTEK dimana nilai-nilai Islam menjadi acuannya.
2. Mendidik keterampilan, memanfaatkan produk IPTEK bagi kesejahterahan hidup, manusia pada umunya dan umat Islam khususnya.
3. Mencoptakan jalinan yang kuat antara IPTEK dan ajaran agama.
Pada akhirnya strategi pendidiakan Islam dalam mengantisipasi kemajuan IPTEK modern, adalah terletak pada kemampuan mengkonfigurasikan sistem nilai Islami yang akomodatif terhadap aspirasi umat Islam.

C. Dampak Kemajuan IPTEK
Kemajuan IPTEK dapat membawa kemanfaatan bagi umat manusia dalam dunia pendidikan antara lain untuk pembelajara jarak jauh, menungkatkan motifasi perbaikan cara pembelajaran, penelusuran informasi pembelajaran dengan bantuan computer, mengelola administrasi.
Adapun dampak negative tekhnologi itu antara lain munculnya kemerosotan moral, perubahan nilai kejahatan dan tindakan criminal, dampak sosial, ekonomi dan dampak dalam bidang pendidikan artara lain menurunnya motivasi dan prestasi belajar, berkurangnya jam belajar dan berain atau sosialisasi anak, timbulnya rasa malas belajar, malas membaca, dan tugas lainnya karena lebih senang menonton TV berbagai acara hiburan,
Adapun bagi pendidikan Islam dampak tekhnologi telah mulai menampakan diri yang ada prnsipnya berkekuatan melemahnya daya mental spiritual. Suasana permasalahan baru yang dampaknya harus dipecahkan oleh pendidikan Islam pada khususnya antara lain dehumanisasi dan heteralisasi nlai-nilai agama. Teradinya pembenturan antara nilai-nilai sekuler dan nilai-nilai absolitisme dari Tuhan akibat rentangnya pola pikir manusia tekhnologis yang bersifat pragmatis. Pendidika Islam harus mampu membuktikan kemampuannya untuk mengendalikan dan menangkal dampak negative dari IPTEK terhadap nilai-nilai etika keagamaan Islam serta nilai-nilai moral dalam kehidupan individu dan sosial.
D. Pemahaman masyarakat tentang IPTEK
Komunikasi IPTEK
Pada abad ke-17, Robert Boyle adalah salah satu ilmuwan pertama yang melakukan percobaan ilmiah untuk menguji hipotesisnya. Dia berasumsi bahwa masyarakat akan mempercayai suatu penemuan ilmiah baru apabila penemuan tersebut dapat divisualisasikan kepada masyarakat. Boyle kemudian mengundang beberapa orang ke laboratoriumnya dan menjelaskan penemuan ilmiahnya. Boyle meyakini bahwa sebuah percobaan ilmiah dapat sahih apabila masyarakat mempercayai apa yang mereka lihat, dan mereka dapat menguji hipotesis dan metodologi yang digunakan pada eksperimen ilmiah. Boyle juga berasumsi bahwa percobaan ilmiah yang dipresentasikan secara visual menghasilkan pengetahuan baru tidak hanya kepada yang menyaksikan, namun juga kepada lingkungan sosial yang lebih luas.
Komunikasi IPTEK terhadap masyarakat dan pemahaman masyarakat terhadap IPTEK merupakan subyek riset yang relatif baru di lingkungan akademis, namun berkembang untuk dipelajari lebih lanjut untuk mendukung proses pengambilan kebijakan publik. Pemahaman yang baik terhadap dinamika kompleksitas IPTEK dan interaksi IPTEK dengan masyarakat, berguna dalam peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap IPTEK dan akhirnya berkembang menjadi suatu sistem pengelolaan dan kontrol sosial masyarakat terhadap IPTEK. Beberapa istilah telah digunakan dalam pendefinisian komunikasi IPTEK antara lain: pemahaman publik terhadap IPTEK, kesadaran publik terhadap IPTEK, dan difusi sosial terhadap IPTEK.
Sejalan dengan waktu, tujuan utama komunikasi IPTEK berkaitan dengan tiga aspek utama. Pertama, aspek politik. Hasil akhir suatu inovasi IPTEK mempunyai spesifikasi tersendiri di dalamnya, yaitu terminologi, institusi, sistem verifikasi, dsb. Spesifikasi tersebut akhirnya membangun sebuah pembatas tidak terlihat antara IPTEK dengan masyarakat. Komunikasi IPTEK bertujuan untuk mencapai suatu keterkaitan antara masyarakat dengan IPTEK. Aspek kedua adalah aspek kognitif. Dalam komunikasi IPTEK, perangkat komunikasi atau penyampai informasi yang digunakan akan disesuaikan untuk menciptakan jaminan terjadinya pemahaman dan penerimaan masyarakat awam terhadap IPTEK.
Sedangkan aspek ketiga adalah aspek kreativitas, yang membantu perkembangan kecerdasan dan kapabilitas masyarakat sehingga menghasilkan kemampuan dalam mengintegrasikan IPTEK ke kehidupan sehari-hari. IPTEK memainkan peran penting sebagai sebuah agen pembaharu di masyarakat. Sebagai bangsa yang bergerak ke arah ekonomi berbasis pengetahuan, dibandingkan ekonomi berbasis sumber daya alam sesuai dengan paradigma tekno-ekonomi, IPTEK menjadi landasan keberhasilan pembangunan ekonomi yang didukung oleh kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia yang kompetitif. Kekuatan bangsa diukur dari kemampuan IPTEK sebagai faktor primer ekonomi menggantikan modal, lahan dan energi untuk peningkatan daya saing. UU No. 18 Tahun 2002.
Tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan IPTEK mengamanatkan tanggung jawab penelitian bukan lagi monopoli pemerintah, tapi juga menuntut peran serta masyarakat. Sehingga, masyarakat pada akhirnya dituntut mempunyai wawasan memadai untuk memahami IPTEK. IPTEK akan berkembang secara cepat dan diskusi mengenai isu-isu yang timbul dari perkembangan tersebut sangat penting. Beberapa negara di belahan benua eropa telah mengalami berbagai tantangan dalam menangani isu-isu kontroversial, contohnya: rekayasa genetika. Negara-negara tersebut memperoleh pelajaran berharga dalam usahanya untuk memperkenalkan dan melibatkan masyarakat umum terhadap IPTEK.
Masyarakat dengan tingkat pendidikan lebih tinggi akan berargumen bahwa IPTEK sangat esensial untuk masyarakat yang berpendidikan lebih rendah.
Dalam masyarakat yang dinamis, sikap dan pandangan lebih penting daripada proses penerimaan suatu informasi bernuansa IPTEK. Individu di dalam suatu komunitas masyarakat akan bersikap atau bereaksi terhadap suatu situasi dan kondisi sosial tergantung segi kualitas materi informasi IPTEK. Sehingga strategi komunikasi IPTEK mempunyai ruang lingkup lebih luas dan mencakup aspek interaksi antara masyarakat dengan IPTEK. Studi mengenai pendekatan dan indikator pemahaman masyarakat tentang IPTEK umumnya terdiri tiga unsur pokok yang saling berkaitan antara satu sama lain: ketertarikan, pengetahuan, dan perilaku.
Indikator unsur ketertarikan bertujuan untuk mengukur hubungan masyarakat dengan perkembangan IPTEK. Indikator pengetahuan bertujuan untuk mengukur tingkatan pemahaman masyarakat terhadap perkembangan IPTEK. Indikator ini berkaitan dengan hubungan antara IPTEK dan media massa yang juga mengukur derajat keberhasilan komunikasi IPTEK terhadap masyarakat dan mengetahui sumber informasi yang paling sering digunakan masyarakat untuk mendapatkan informasi IPTEK, seperti TV, radio, koran, majalah, internet, museum, dll. Sedangkan indikator perilaku mencakup perilaku dan penerimaan masyarakat terhadap proses pendanaan suatu inovasi IPTEK serta presepsi masyarakat terhadap keuntungan dan resiko penerapan inovasi IPTEK tersebut. Namun studi-studi tersebut menghadapi kendala bagaimana mendesain langkah evaluasi dan interpretasi presepsi dan pemahaman masyarakat terhadap IPTEK, atau umumnya disebut budaya IPTEK. Terdapat beberapa model pendekatan yang berkembang untuk memahami presepsi dan pemahaman masyarakat terhadap IPTEK.
Model komunikasi IPTEK yang berkembang s.d. saat ini dikenal sebagai ”model difusi linier” atau juga dikenal sebagai ”model defisit”. yang merupakan ciri khas masyarakat Anglo-Saxon dalam mempelajari komunikasi IPTEK. Model defisit berlandaskan hipotesis bahwa pengetahuan bernuansa IPTEK mempunyai parameter yang dapat mengukur seberapa banyak suatu informasi IPTEK dapat diserap oleh setiap individu. Model defisit juga mengasumsikan bahwa masyarakat adalah peserta pasif yang mempunyai knowledge gap dan sepatutnya diisi dengan informasi IPTEK.
Model ini merupakan top-down model dimana pengetahuan ilmiah hanya berjalan satu arah, dari ilmuwan kepada masyarakat. Dengan demikian model ini merupakan model linier seperti yang biasa digunakan di masa lampau untuk menganalisa kemajuan IPTEK. Model defisit hanya dapat menjelaskan secara parsial kompleksitas pemahaman dan presepsi masyarakat terhadap IPTEK. Sehingga terdapat terdapat beberapa kelemahan subtansial, antara lain:
Dengan memperlakukan masyarakat mempunyai respon pasif dalam pemahaman dan presepsi terhadap IPTEK, model defisit tidak dapat memberikan motivasi atau pengertian aktif-konstruktif dalam pengolahan informasi IPTEK terhadap masyarakat
Model defisit tidak memperlakukan budaya IPTEK sebagai suatu proses dinamis dan sosial tapi lebih menekankan pada karakteristik individu penerima pengetahuan IPTEK. Bertolak belakang terhadap kenyataan bahwa pemahaman masyarakat terhadap IPTEK bergantung kepada konteks sosial dimana informasi IPTEK menjadi lebih operasional.
Model defisit juga memperlakukan komunikasi IPTEK hanya sebagai alur komunikasi satu arah namun tidak memperhitungkan proses timbal balik yang dinamis.
Model defisit mendapat kritik dalam beberapa dekade belakangan. Sehingga, terdapat beberapa alternatif model pendekatan yang berkembang untuk melengkapi kekurangan model defisit, antara lain: Model kontekstual. Model ini sering digunakan dalam studi respon dan presepsi masyarakat terhadap resiko IPTEK, yang menekankan bahwa individu penerima informasi IPTEK bukan sebagai entitas pasif. Namun individu tersebut melakukan proses reinterpretasi dalam konteks budaya dan nilai yang berkembang di sekitarnya. Lay expertise model. Model ini mengedepankan peran kearifan lokal dan adat istiadat masyarakat yang beragam dalam interpretasi dan mendayagunakan informasi IPTEK.
Model ini melihat bahwa ketidakmampuan masyarakat untuk memahami IPTEK disebabkan oleh wawasan dan pengertian yang berkembang di masyarakat akibat pengaruh budaya dan adat, daripada menyalahkan masyarakat secara langsung. Sehingga proses komunikasi IPTEK tidak hanya memberikan informasi IPTEK semata, namun lebih membangun pemikiran kritis yang memungkinkan masyarakat untuk mengevaluasi perkembangan IPTEK sesuai dengan relevansi sosial.
4. Budaya IPTEK
Ketika berbicara budaya IPTEK, terdapat tiga kemungkinan struktur linguistik dalam pengungkapannya, antara lain:
Budaya IPTEK. Terdapat dua kemungkinan,
o Budaya yang diciptakan oleh IPTEK
o Budaya IPTEK itu sendiri
Budaya melalui IPTEK. Terdapat dua kemungkinan,
o Budaya dengan cara IPTEK
o Budaya yang menyokong IPTEK
Budaya untuk iptek. Terdapat dua kemungkinan,
o Budaya yang digerakkan untuk produksi IPTEK
o Budaya yang digerakkan untuk sosialisasi IPTEK
Pada Poin Terakhir Juga Terdapat Dua Kemungkinan,
o Difusi ilmiah dan pendidikan ilmuwan
o Bagian pendidikan yang tidak terkandung pada difusi ilmiah dan pendidikan ilmuwan. Contoh: sistem belajar-mengajar sekolah menengah, pendidikan sarjana, dan pendidikan untuk umum.
Perbedaan tersebut di atas tidak mencakup keseluruhan interaksi yang mungkin terjadi antara masyarakat dengan topik IPTEK dalam suatu sistem kemasyarakatan, namun perbedaan tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang jelas terhadap kompleksitas semantik yang terlibat dalam pengungkapan budaya IPTEK dan fenomena yang disebut sebagai ”masyarakat ilmiah”. Budaya IPTEK sebagai suatu proses dinamis dapat dijelaskan sebagai apa yang disebut dengan spiral budaya IPTEK. Sumbu horisontal menunjukkan waktu dan sumbu vertikal menunjukkan spasial, serta kategori masing-masing kuadran yang berjalan dinamis, searah jarum jam.
E. Strategi pembangunan pendidikan agama (Islam) dalam upaya mengantisipasi perkembangan IPTEK
Dalam menghadapi berbagai tanntangan dan dampak IPTEK, Pendidikan Islam harus memiliki berbagai strategi sebab Agama harus bisa menjawab tantangan yang relative dekat dihadapan kita. Dalam hal ini urusan dunia selain berhubungan dengan persoalan keakhiratan, jadi harus di jawab sejauh mana dengan Agama kini bisa menjawab tantangan kemajuan itu. IPTEK harus di puaskan tetapi kini tidak boleh di tinggalkan sehingga bisa membentuk sumberdaya manusia yang handal.
Chabib Thoha menyebutkan adanya dua strategi pendidikan Islam dalam menghadapi berbagai tantangan dan dampak IPTEK tersebut. Yaitu strategi global dan strategi-strategi global mempunyai dua pendekatan yaitu pendekatan sistematik dan proses adapun strategi sektoral, strategi ini bersifat temporal dan kondisional berdasarkan dua strategi pendidikan Islam diatas maka di ketahui dengan pasti dan jelas dimana letak keberadaan IPTEK.

A. KESIMPULAN
Pada akhirnya pendidikan IPTEK merupakan sebuah atribut tidak terpisahkan dalam suatu komunitas masyarakat. Karena penekanan utama komunikasi IPTEK adalah kepada proses bagaimana masyarakat dapat memahami IPTEK secara berkesinambungan, masyarakat perlu juga memahami bagaimana bentuk bahasa yang tepat dalam proses pengkomunikasian IPTEK oleh penyampai informasi kepada mereka.
Masyarakat melakukan interpretasi terhadap informasi IPTEK disesuaikan dengan pengaruh dari dalam diri setiap individu –tingkat pendidikan, tingkat ekonomi- dan pengaruh dari lingkungan -relevansi sosial dan struktur sosial- yang mempengaruhi seberapa cepat dan akurat informasi IPTEK dapat diterima sesuai dengan tujuannya. Sehingga diperlukan tahapan pengembangan mengenai bagaimana bentuk dan mekanisme komunikasi IPTEK terhadap masyarakat majemuk secara efektif dan efisien yang disesuaikan dengan kearifan lokal dan konteks budaya yang berkembang di masing-masing tatanan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Bauer, M. W., Bucchi, M., 2007. Journalism, science and society: science communication between news and public relations. Routledge, United Kingdom.
Lewenstein, B.V., 2003. Models of public communication of science and technology. Public Understanding of Science, Cornell University, New York.
Rao, C.N.R., 2008. Science and technology policies: The case of India. Technology in Society 30, pp.242– 247.
R├ędey, S., 2006. Science for Public – the Dimension of Science Communication. Tudomany-Kommunikacio-Tarsadalom, pp. 75-81.
Servaes, J., 2008. Communication for Development and Social Change. Sage Publications, United States.
Zaenudin Ali, Pendidikan Agama Islam, PT. Bumi Aksara, Jakrata 2007.
Sukanto, Prospek dan Agenda Masalah Pendidikan-Pendidikan Dalam PJP II. Yogyakarta 1994.
Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta :2007) PT.Bumi Aksara.
Mansyur Isna, Diskursus Pendidikan Islam, jogjakarata, Global Pustaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar